Innallaaha ma’ash-shoobiriin....
Itulah kata penghibur yang terus aku tanamkan dalam hati dan kehidupanku. Kata-kata itu menjadi obat hati dikala cobaan terus berdatangan tanpa henti. Aku camkan dalam-dalam bahwa aku harus sabar. Karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Artinya, orang menyukai orang yang dengan tulus menerima segala cobaan dengan lapang dada.
Cobaan memang datang tak kenal waktu dan kompromi. Ibaratnya, datang tak diundang pergi tak permisi. {hmmh... jaelangkung kali}. Cobaan itu datangnya dari Allah . Jadi, jika Allah mengirimkannya kepada kita, berarti ada maksud dibalik itu. Iya memang. Allah sendiri sudah menegaskan dalam Alqur’an, jangan sekali-kali mengaku beriman kalau kita belum diuji. Ibarat tentara, sebelum menjadi perwira, seorang tentara harus melalui berbagai ujian dulu.
Cobaan dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Cobaan tidak hanya ketika kita dihadapkan pada masalah pelik. Ketika kita sedang dikaruniai kekayaan, kesehatan, dan kenikmatan, itupun bentuk dari cobaan. Kekayaan yang Allah karuniakan kepada kita, tidak lain itu ujian apakah kita bisa “memakainya” dengan benar. Harta kita akan kita gunakan untuk pesta, foya-foya, ataukah kita nafkahkan di jalan Allah seperti shodaqoh, infaq dan amalan kebaikan lainnya. Dan, jika menurut Allah kita tidak pantas mengemban amanah untuk “memakai” harta itu, Allah akan mencabutnya. Makanya, jangan sayang-sayang kalau Anda punya harta. Gunakanlah untuk amalan kebaikan, shodaqoh, infaq maupun menyantuni anak yatim piatu.
Sudah banyak contoh orang yang sudah diberikan amanah kelimpahan harta tetapi akhirnya ia jatuh miskin. Tidak usah jauh-jauh, dekat lingkunganku sendiri, ada seorang pengusaha yang sudah terkenal di seluruh kampung. Produknya sudah dipasarkan ke berbagai daerah. Rumahnya pun mewah. Tanahnya juga banyak. Tapi sayangnya, tidak ada niat dalam hatinya untuk segera melaksanakan ibadah haji. Kekayaannya yang berlimpah telah menutup matanya untuk pergi ke tanah suci.
Akhirnya panggilan Allah itu didengarnya juga. Suatu saat, ia sudah berniat melaksanakan ibadah haji. Namun sayang, ia tergoda bisikan setan. Ketika mau mendaftar sebagai calon jemaah haji, ia dihadapkan pada dua pilihan : segera mendaftar haji, atau uangnya itu ia gunakan untuk ekspansi usahanya mengingat bisnisnya sedang dalam masa kejayaan. Akhirnya, setelah dipikir-pikir, ditimbang-timbang, dihitung-hitung, dan apalagi ya...? ia memutuskan untuk memperluas usahanya,dan batallah niatnya untuk segera mendaftar haji.
Akhir ceritanya, Allah menurunkan adzab kepadanya. Usahanya yang sudah dirintisnya puluhan tahun dan sedang berkembang pesat mendadak bangkrut!!!. Entah apa penyebabnya, yang jelas, setelah ia mengalokasikan dana untuk perluasan bisnisnya, yang sedianya akan ia gunakan untuk mendaftar haji, usahanya bangkrut dalam hitungan bulan. Ia pun dililit hutang bank karena operasional usahanya mandeg. Hingga akhirnya, kekayaannya satu per satu dijual. Keluarganya berantakan. Naudzubillah min dzaalik.
Itulah kata penghibur yang terus aku tanamkan dalam hati dan kehidupanku. Kata-kata itu menjadi obat hati dikala cobaan terus berdatangan tanpa henti. Aku camkan dalam-dalam bahwa aku harus sabar. Karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Artinya, orang menyukai orang yang dengan tulus menerima segala cobaan dengan lapang dada.
Cobaan memang datang tak kenal waktu dan kompromi. Ibaratnya, datang tak diundang pergi tak permisi. {hmmh... jaelangkung kali}. Cobaan itu datangnya dari Allah . Jadi, jika Allah mengirimkannya kepada kita, berarti ada maksud dibalik itu. Iya memang. Allah sendiri sudah menegaskan dalam Alqur’an, jangan sekali-kali mengaku beriman kalau kita belum diuji. Ibarat tentara, sebelum menjadi perwira, seorang tentara harus melalui berbagai ujian dulu.
Cobaan dari Allah itu bentuknya bermacam-macam. Cobaan tidak hanya ketika kita dihadapkan pada masalah pelik. Ketika kita sedang dikaruniai kekayaan, kesehatan, dan kenikmatan, itupun bentuk dari cobaan. Kekayaan yang Allah karuniakan kepada kita, tidak lain itu ujian apakah kita bisa “memakainya” dengan benar. Harta kita akan kita gunakan untuk pesta, foya-foya, ataukah kita nafkahkan di jalan Allah seperti shodaqoh, infaq dan amalan kebaikan lainnya. Dan, jika menurut Allah kita tidak pantas mengemban amanah untuk “memakai” harta itu, Allah akan mencabutnya. Makanya, jangan sayang-sayang kalau Anda punya harta. Gunakanlah untuk amalan kebaikan, shodaqoh, infaq maupun menyantuni anak yatim piatu.
Sudah banyak contoh orang yang sudah diberikan amanah kelimpahan harta tetapi akhirnya ia jatuh miskin. Tidak usah jauh-jauh, dekat lingkunganku sendiri, ada seorang pengusaha yang sudah terkenal di seluruh kampung. Produknya sudah dipasarkan ke berbagai daerah. Rumahnya pun mewah. Tanahnya juga banyak. Tapi sayangnya, tidak ada niat dalam hatinya untuk segera melaksanakan ibadah haji. Kekayaannya yang berlimpah telah menutup matanya untuk pergi ke tanah suci.
Akhirnya panggilan Allah itu didengarnya juga. Suatu saat, ia sudah berniat melaksanakan ibadah haji. Namun sayang, ia tergoda bisikan setan. Ketika mau mendaftar sebagai calon jemaah haji, ia dihadapkan pada dua pilihan : segera mendaftar haji, atau uangnya itu ia gunakan untuk ekspansi usahanya mengingat bisnisnya sedang dalam masa kejayaan. Akhirnya, setelah dipikir-pikir, ditimbang-timbang, dihitung-hitung, dan apalagi ya...? ia memutuskan untuk memperluas usahanya,dan batallah niatnya untuk segera mendaftar haji.
Akhir ceritanya, Allah menurunkan adzab kepadanya. Usahanya yang sudah dirintisnya puluhan tahun dan sedang berkembang pesat mendadak bangkrut!!!. Entah apa penyebabnya, yang jelas, setelah ia mengalokasikan dana untuk perluasan bisnisnya, yang sedianya akan ia gunakan untuk mendaftar haji, usahanya bangkrut dalam hitungan bulan. Ia pun dililit hutang bank karena operasional usahanya mandeg. Hingga akhirnya, kekayaannya satu per satu dijual. Keluarganya berantakan. Naudzubillah min dzaalik.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar